Tetap Optimis

Sabtu, 24 September 2011



Ekspresi atas kegelisahan dan kecemasan ini mencuat ke permukaan karena perbuatanku sendiri. Saat aku ingin mengajukan diri untuk resign, sebenarnya ada perasaan yang mengganjal dalam diriku. Jadi atau tidak. Akhirnya jadi.

Aku mengundurkan diri dengan membawa sejumput harapan, yaitu sisa uangku dibelanjakan untuk mendaftar di salah satu universitas untuk melanjutkan S2 serta mendaftarkan diri untuk tes TOEFL.

Dari beberapa harapan itu, satu per satu mulai berguguran ditelan zaman. Niatku untuk daftar S2 urung karena uang yang kupersiapkan ternyata hanya cukup untuk memenuhi kebetuhan harianku sampai 1 bulan ke depan. Kedua, uang yang kupersiapkan untuk tes TOEFL dialihkan untuk membayar motorku yang masuk bengkel. Luputlah semua harapanku untuk tahun ini.

Lebih parahnya lagi, harapan untuk seleksi beasiswa luar negeri di salah satu institusi melalui jalur internal kampusku pun buyar terpencar karena setelah melakukan lobi dengan Dekan, lobi tidak diterima. Dekan hanya memberikan rekomendasi atas nama pribadi, bukan atas nama Fakultasku. Tak kehabisan akal, aku berharap bahwa surat rekomendasi itu selesai dalam tenggat waktu yang ditentukan. Ternyata sampai batas waktunya, rekomendasi itu tidak jadi dibuat, dan akhirnya seleksi internal kampus pun urung kukejar.

Aku mengucapkan selamat tinggal idealisme. Tidak, aku hanya melakukan perpisahan sementara untuk bertemu idealismeku satu atau dua tahun mendatang, tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas terkemuka. Sekarang, tinggal mengucapkan selamat datang kepada realisme, fokusku akan meniti karir.
***
Setelah aku resign, aku beberapa kali ikut psikotes, yang menunjukkan bahwa aku sekarang realistis. Impian untuk melanjutkan S2 di universitas-universitas negeri terkubur bersama realistisme tersebut.  Di samping itu, impian ke luar negeri pun buyar entah ke mana, tak ada realisasi. Tapi aku yakin, idealisme itu akan bangkit dari kuburnya, cepat atau lambat.

Sejauh ini, kurang lebih 7 kali psikotes pernah aku lakoni, mabuk alat tes. Psikotes pertama dilakukan di Dompet Dhuafa, berakhir dengan kegagalan. Kedua, tes yang belum pernah kulakukan sebelumnya, yaitu: Self-Presso, micro teaching, interview, FGD, dan Problem Solving, yang lebih melelahkan dari psikotes biasa serta memeras peluh. Itu aku jalani saat aku lulus seleksi tahap I Indonesia Mengajar. Berakhir juga pada kegagalan. Psikotes kedua, aku jalani di FAC dengan akhir sebuah kegagalan juga. Padahal di tempat ini, jika diterima, bakal menjadi tempat layaknya aku S2 psikologi Industri dan Organisasi. Psikotes yang ketiga, di bulan Ramadhan yang penuh berkah, aku lakukan di PT. PI, dan kegagalan pun masih menjadi temanku.

Psikotes keempat akan kulakukan pada Senin, 8/8/11. Mendengar kabar dari teman bahwa ada posisi lowong sebagai editor di PT. PE, besoknya aku langsung pergi ke kantor pos untuk mengirimkan lamaran tersebut. Selang dua hari, aku mendapat panggilan. Mengikuti ujian calon editor, aku lulus. Setelah itu, aku diinterviu oleh 4 orang secara bergantian. Pada akhirnya tetap gagal.

Mencoba di PT. EI, aku langsung gagal psikotes ke-5 ku. Selanjutnya, dikirim pesan singkat, melalui temanku dari BSM, aku mengikuti psikotes yang ke-6. Namun dua minggu setelah itu, tidak ada kabar. Selang beberapa hari tes di BSM, aku ikut psikotes yang ke-7 di PB. Hasilnya, aku lolos psikotes. Lanjut ke tahap interviu. Namun, setelah 7 hari, tidak ada pengumuman bahwa aku diterima. Selain ketujuh psikotes itu, aku juga dua kali langsung interviu. Di salah satu TV nasional dan salah satu HR konsultan. Hasil di TV tersebut nihil, tetapi di HR konsultan ada peluang sebesar 89%.
***
Hal yang aku tekankan adalan sekarang berusaha untuk sabar, karena lambat laun pasti aku akan dapat karirku. Tinggal meramu kesabaran tersebut menjadi perilaku aktif dengan tetap berusaha melamar di perusahaan-perusahaan tertentu. Selain itu, bumbu kesabaran itu sendiri aku tambahkan di dalam tempat yang bernama Ramadhan.

Aku tidak ingin mengulangi kesalahan dan kesombonganku ketika sudah mendapat pekerjaan di TP. Seharusnya jika ingin keluar dari suatu perusahaan, harus mendapat pekerjaan lain terlebih dahulu.

Aku bersyukur, kini aku paham mengapa harus 3 bulan masa probation. Aku mengalaminya, aku belajar dari masalah. Pilihan kemarin akhirnya berdampak sistemik sehingga mengharuskan aku kerja ekstra membangun kepercayaan diri dan membangun keyakinan diri lagi. Aku pun sudah mendapatkan jawaban yang menguatkan bahwa di tempat kerjaku sebelumnya tidak dapat membuatku berkembang lebih baik.

Wallahu a’lam... Ciputat, 5 Agustus 2011, menunggu Shalat Jumat, ditemani Allah...
ditemani Allah, malam Ahad, 25 September, direvisi

2 komentar:

Sukanitha 15 Oktober 2011 15:23  

Masya Allah... Tetep semangat ya ka

Hebat...hebat...hebat....

Insya Allah... Disana Allah telah memeberikan skenario indah-Nya...

Merinding baca nya

16/10-2011 05.12

Emte Hidayat Sude 25 Oktober 2011 14:41  

luar biasa bro, kerja keras dan semangat ini yang dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat kita. gagal,....bangkit, gagal lagi....bangkit lagi, terus bngkit.
Fight untill the end

Poskan Komentar

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP