Tetap Optimis
Sabtu, 24 September 2011
ditemani Allah, malam Ahad, 25 September, direvisi
Menjilati Kebebasan Melalui Renungan
![]() |
sumber foto: http://santosopreunership.wordpress.com/page/5/
|
![]() |
| kasih sambutan |
![]() |
| membaca doa |
![]() |
| memberi sambutan |
![]() |
| bercerita |
![]() |
| ketika kampanye |

Sore itu, kondisi badanku memang tidak terlalu fit. Mungkin karena tidak terlalu fit pikiranku menjadi tidak terlalu fit juga. Aku memenuhi undangan temanku syukuran pernikahannya. Di tempat itu aku bertemu dengan temanku. Dia satu sekolah denganku, pernah berjuang bersama di Jawa Timur. Awalnya, sikapku terhadapnya biasa saja. Teman biasa dan tak ada yang dilebih-lebihkan. Selanjutnya aku panggil dia Mba Marni.
Sejak kejadian itu, aku mengirim pesan pendek kepada Mba Marni. Memang beberapa kali. Akan tetapi tidak pernah dijawab. Maksudku hanya ingin bersilaturrahmi dan bersikap ramah saja walaupun dengan pesan singkat. Kemudian beberapa hari setelah itu, seorang temanku mengirim pesan singkat untukku. Pesan tersebut merupakan kepanjangan tangan dari Mba Marni. Isi pesannya adalah imbauan – kasarnya larangan – supaya aku tidak lagi mengirimkan pesan singkat kepada Mba Marni lagi. Membaca pesan itu, sebagai manusia biasa, aku cukup tersinggung, api amarah spontan tersulut dan membesar. Lalu, kepada temannya aku mengatakan: “Tolong bilang ke Mba Marni, aku tidak akan pernah kirim SMS kepada dia lagi, dan tolong bilang ke dia, ketika SMS ini dibaca, nomor dia sudah tidak ada di hapeku.” Walaupun bahasa teks, yang kesannya mati, aku memasukkan emosi marah ke dalam pesan itu. Tidak ada jawaban lagi
Mulai saat itulah, bibit benci tertanam, hanya tertanam dan tidak tumbuh subur apalagi tersemai. Karena tidak ada pupuk yang bisa membuat bibit tersebut tinggi, membesar dan kemudian meraksasa. Tidak, tidak sama sekali. Aku berusaha merepress dan mengendalikan itu, tapi kebencian yang sepertinya hanya kecil di dalam hati begitu mengganjal.
Dalam perjalanan pulang dari syukuran temanku, aku tertegun sejenak, tercekat leherku tidak bisa berucap. Astaghfirullah, saat itu aku tersadar bahwa dalam hatiku masih terpelihara kebencian terhadap Mba Marni. Saat itu aku seprti orang jahat yang mengkonservasi rasa benci dalam taman hatiku. Aku beberapa saat kemudian tersita pikiranku oleh sebuah solusi bagaimana supaya rasa benci itu pudar bahkan hilang. Aku terus terang tidak mempunyai nomor kontak, jejaring sosial atau komunikasi apapun dengan dia. Sebelum menulis surat kaleng ini, aku sebenarnya mencari alamat dunia mayanya sehingga aku bisa meminta maaf kepada dia karena menanam kebencian. Apapun responnya, aku akan terima asalkan hak untuk meminta maaf telah kupenuhi. Tapi tak bisa, tidak ketemu. Ya sudah surat kaleng ini saja. Mudah-mudahan dia bisa membaca.
Seandainya saja aku tahu letak kesalahanku dimana, tentunya tidak akan seperti ini. Aku akan memperbaiki kesalahanku dan sekalipun dia meminta untuk tidak lagi menghubunginya aku terima. Tetapi ini tidak, aku hanya menangkap bahwa dia tidak suka berteman denganku. Ah, sudahlah. Interpretasi-interpretasi inilah yang membuatku semakin terjerumus dalam kebencianku, interpretasi tanpa didukung dengan fakta yang valid. Harapanku semoga Mba Marni memaafkanku saja, itu sudah cukup jadi oasis di tengah padang kebencianku yang begitu tandus. wassalam

Someone must make their thinking free to develop, to convey the ideas born in mind. One has to be out of the box, escaping from their comfort zone. When they can escape from the comfort zone, they will be successful person. Success is a process from creative thinking phase, and it starts from imagination. Imagination can bring someone from something impossibly happened to absolutely happened. To develop imagination, the point can be initiated from words "If". With this "if", one is able to express some things in his or her mind, to do whatever he or she wants to, and to be whatever he or she wants to be.
The author wants to talk about "If". If I ruled the world, the first thing that I would do is being Secretary General of United Nation, replacing Ban Ki Mon. My first 100 hundred days' work program that I would realize is to gradually defeat the domination of United States of America. It sounds impossible, but impossible means I'm possible. After defeating USA's domination, I could do everything in the world as good as and as wise as possible. To initiate the program that I held, I present you two big problem of the world, global warming and traffic jam.
Nowadays, it is certainly true that earth has serious and chronic problem, global warming. Ozone layer is widely decreased day by day and climate change happened in most of countries of the world. This is because of the age of the earth is increased so fast that make it older and weaker. The age of the earth is predicted now 4.5 billion years-old. Another reason might be from us, as human beings that are not able to keep the environment. We dump the rubbishes everywhere we want, not in the garbage. In addition, we regularly and illegally log the forest and we often use the electrical appliances – air conditionings, computers, printer ink – in which they affect pollution. Furthermore, the using of paper and plastic might worsen the earth problem. In this article, I also propose the people of the world to concern about paper using that play a big role to make pollution.
Recent study shows that need for paper industry in Indonesia is 8 percent supplied by HTI and 92 percent supplied by illegal logging. The forest of Indonesia is logged and lost as same as Bali Island. Furthermore, to produce a rim of paper spends one 5 years-old tree. According to kaskus.us, 42 percent of wood industry is used to produce paper. Additionally, paper industry is the fourth biggest emission maker in United States. Furthermore, to make a kilo of paper needs three kilos of wood, only one of three trees that used to produce paper.
If I ruled the world, I would command every head of nation, including Obama, Ahmadinejad and SBY, to follow my instruction that can be informed and implemented in their own nation. The activities are to bear self-awareness about "Go green," to plant trees as much as possible, to use and read e-files, and to reuse used paper in every activity related to paper printed in the offices, schools or colleges.
The second big problem in the world is traffic jam. How many cities in the world whose traffic jam is highly intense? Here are the 20 worst traffic jam cities in the world cited from kaskus.us. Tokyo is listed as the worst traffic jam city in the world, followed by Los Angeles in the second position. Then Sao Paulo in Brazil, Bangkok in Thailand, Moscow in Russia, Shanghai in China, Mumbai in India, Mexico City in Mexico, New York in USA, Seoul in Korea, Chicago in USA, Manila in Philippine, London in UK, Jakarta in Indonesia, Osaka in Japan, Venezuela, Athens in Greek, Auckland in New Zealand, Rio de Janeiro in Brazil, and the last Kathmandu in Nepal.
As Secretary General of UN, I would probably prioritize to cure traffic jam of Jakarta due to I am originally Indonesian even though Jakarta is placed in fourteenth. I would ask Governor of Jakarta, Fauzi Bowo, to do what I am thinking and saying. First, I would ask the chief of Indonesian police to add the personnel of police in Jakarta. The police would be regularly located in every street in which traffic jam frequently happened. In trial period, I would locate the police only a month to train the driver and rider to be patient in the road, easy-going in the road, and comfort in the road. It is only about training and supervising in where the people of Indonesia, Jakarta especially, must be supervised in every regular activity they do so that they can be used to be patient in the road in one month. After this good behavior formed, supervision will be gradually decreased day by day.
The other recommendation for government, I would ask Governor to make road wider than before in which according to the data, road in Jakarta is only 6.4 percent of Jakarta's wide. Whereas, in other developed countries, the wide of road must be 20 percent of wide total of the country. This way is to balance between growth of vehicles and
To the rider and driver, I would like to make a “how to be patient in the road” training that would be directly hosted and trained by myself, Amirul Muminin Wahid. In this training, the participant would learn about how to ride and drive safely, how to behave respectfully in the road, and how to say politely in the road.
To summarize, it is important to know and identify the problem and difficulties of place where we inhabit. We then have to recommend best solution that will be implemented by one or institution that is responsible of these problems. The last but not least, love your surrounding by keeping it clean, obey the rules made, and go for it!
"The Earth needs attention, solution, and action".

Hari ini, 25 Februari 2011, merupakan hari bersejarah bagiku. Pasalnya, 25 Februari 2000, tepat pada hari Jumat, Bapakku mengembuskan nafas terakhir. Karena peristiwa itulah, semangatku terus bangkit untuk melihat preseden sebagai pemacu hidup lebih baik. Kini 11 tahun berlalu tanpa terasa. Dulu aku adalah anak laki-laki kecil berumur 11 tahun, masih cukup kecil untuk menerima kenyataan yang begitu berat. Sepeninggalnya Bapak, mungkin orang yang paling terpukul adalah Ibu. Bagaimana bisa Bapak yang umurnya masih 51 tahun waktu itu meninggalkan istri dan sebelas anaknya. Sungguh pukulan yang sangat kencang bagi Ibu. Tetapi aku selalu menguatkan Ibu bahwa beliau adalah orang yang dipilih Allah untuk mengurus anak-anak yatim dan Allah Maha Tahu cobaan yang dibebankan kepada hamba-Nya tidak mungkin tidak bisa dipikul.
Ibu jatuh bangun mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Kadang ibu harus bangun pagi-pagi sekali untuk menggoreng risoles yang dijual dan hasilnya untuk membeli makanan hari ini. Kadang Ibu harus membungkus teh dalam plastik kecil kemudian dibekukan agar bisa dijajakan di warung-warung. Aku pun turut serta kadang menyisihkan daun pisang yang masih hijau untuk dijual di tukang nasi uduk. Jatuh bangun ibu yang begitu intens memercikkan makna mendalam untuk dicerna, menelurkan semangat, menenggelamkan putus asa, menyemai harapan dan menebarkan kebaikan.
Keringat Ibu tidak sia-sia, walaupun hanya bekerja seperti itu ditambah pensiunan ayah yang habis untukku saja dan ditambah rezeki yang tak terduga dari mana asalnya, berapa jumlahnya, dan kapan datangnya. Ibu akhirnya kini memiliki 5 anak yang sudah menyelesaikan S1 dan 1 anak yang menyelesaikan S2. Bagi kebanyakan orang, raihan ini tidak begitu hebat, tapi bagi Ibuku yang single parent, yang tidak memiliki penghasilan tetap, dan beliau sendiri hanya sekolah sampai SD kelas 4, merupakan torehan yang membanggakan bagi dirinya, karena ternyata tidak harus kaya untuk sekolah. Hal yang dibutuhkan adalah semangat dan kreativitas untuk tetap bertahan hidup dan hidup layak.
Bapak dan Ibuku
Bapakku dilahirkan pada 05 Juli 1949 di sebuah desa kecil di Bogor, desa Cimayang Sari, Cibatok. Ayahnya, yang juga Abahku, asli Bogor dan uminya, aku memanggilnya ibu, merupakan asli Banten. Konon kabarnya pertemuan kakek dan nenekku ini di pesantren tempat bapakku nyantri juga, di Banten, yang mana peristiwa itu menginspirasi Bapak mencari calon istri di pesantren. Bapak memang dari keluarga yang subur, beliau memiliki 6 saudara hidup dan 3 lainnya meninggal saat kecil. Dengan meninggalnya kakak-kakak Bapak, maka secara otomatis Bapak menjadi anak pertama.
Masa kecil Bapak dihabiskan di desanya, sama seperti anak-anak lain. Akan tetapi, beliau hijrah ke Banten untuk menimbal ilmu agama selama kurang lebih 8 tahun. Saat-saat itulah Bapak melirik gadis asal bekasi asli yang juga nyantri di sana. Ya, gadis itu adalah ibuku. Bapak langsung mengirim surat ke nenekku di Bekasi untuk bisa meminang Ibu. Ibu sempat bingung karena pada saat yang bersamaan ada juga yang melamarnya. Tapi Nenek lebih setuju dengan Bapak. Sekitar tahun 1969 atau 1970 Bapak dan Ibu menikah di Bekasi. Bapak kerap kali mengajak Ibu tinggal di Bogor. Namun, keinginan itu diurungkan karena tidak diizinkan oleh Nenek. Akhirnya, untuk mengikat Bapak supaya tidak pindah ke Bogor, nenek memberikan sebidang tanah beserta rumahnya, tanpa plester tembok dan hanya berukuran kecil saja. Sumber air saat itu dari sumur kerek. Istilah sekarang, tidak ngerek tidak mandi. Sebagai informasi, nenekku yang di Bekasi adalah seorang business woman, pedagang keliling. Mungkin darah pedagang Ibu mengalir dari Nenek. Uniknya, nenek selalu membeli tanah setiap kali mempunyai uang. Sehingga pada akhir hidupnya nenek membagi-bagikan tanah yang cukup luas kepada anak-anaknya.
Saat itu di depan rumahku sawah terbentang luas, hijau. Kali begitu jernih mengairi sawah tersebut. Jalan raya KH. Abu Bakar, yang dulu belum ada nama jalan itu dan mungkin Kyai tersebut masih hidup saat itu, masih berupa tanah saja, belum ada mobil ataupun kendaraan-kendaraan melintas. Di sekitar rumahku pun masih berupa kebun dan ada 9 buah pohon rambutan dan satu empang tempat Bapak menternak ikan lele. Sambil berternak dan bertani, Bapak mengajar di sebuah sekolah. Waktu itu, gajinya tidak lebih dari 300 rupiah. Bapak sering mengajak ibu pergi ke Bogor, di sanalah ibu menjadi tiasa sunda. Menurut Ibu, dulu tol Jagorawi itu sangat licin sehingga tidak terasa berjalan ketika bus melaju, sangat nyaman. Tapi sekarang penuh dengan gajlugan. Seandainya Bapak dan Ibu tinggal di Bogor, mungkin aku sudah menjadi orang sunda asli, bukan betawi.
Pada tahun 1972, ibu melahirkan anak pertama, seorang laki-laki. Tahun 1974, melahirkan anak perempuan, tahun 1978 melahirkan anak laki-laki, tahun 1980 melahirkan anak perempuan, 1982 melahirkan anak perempuan, 1985 melahirkan anak perempuan, tahun 1988 melahirkan aku, tahun 1990 melahirkan anak perempuan, tahun 1992 melahirkan anak laki-laki, tahun 1995 melahirkan anak perempuan, dan terakhhir pada tahun 1998 melahirkan anak laki-laki. Jumlah total ada 11, lengkap.
Di antara tahun-tahun itu, ada tahun ketika Bapak menginisiasi pendirian Mushola di kampungku. Ini pula yang patut dicontoh karena waktu itu belum ada mushola yang dekat dengan rumah. Untuk ke masjid cukup jauh sehingga Bapak mengajak senior-senior kampung untuk mendirikan mushola dengan wakaf tanah dari kakak kakekku yang di Bekasi. Sampai sekarang Mushola itu terus dipakai masyarakat kampung khususnya dan pengguna jalan KH. Abu Bakar pada umumnya. Mudah-mudahan pahala jariyahnya terus mengalir. Amin..
Sekitar tahun 1991, Bapak Kuliah di Universitas Islam 45 Bekasi, jurusan PAI. Sebuah prestasi yang membanggakan karena walaupun sudah memiliki sembilan anak, Bapak berusaha untuk tetap kuliah. Pada tahun 1994, Bapak diwisuda dengan membawa seluruh anaknya dan saudara-saudara dekat. Begitu ramai wisuda saat itu. Bapak pun menorehkan sejarah sebagai wisudawan pertama dalam keluarganya. Meskipun S1 di usia yang cukup tua, tetapi semangat dan kreativitas Bapak mendebarkan jantungku untuk selalu memancang semangat di tempat yang tinggi dan berusaha untuk menorehkan sejarah baru, menjadi Doktor pertama dalam keluarga. Amin..
Tapi apa boleh buat, kematian memang sangat dekat, dengan urat nadi pun kalah dekat. Tatkala maut menjemput, tak ada yang bisa mengelak dan menolak. Semua sudah dipastikan. Pada Jumat 25 Februari 2000 itu, Bapak yang tidak memiliki penyakit jantung, secara tiba-tiba terkujur lemas dengan wajah membiru, tak mendengar siapa-siapa dan tak bersuara. Keadaan rumah yang sepi menjadi ramai dikunjungi orang. Ba’da Ashar, aku baru pulang mengaji. Sebelum ashar aku berpamitan dengan Bapak, kemudian setelah Ashar bapak tidak berpamitan untuk selamanya. Pakaian yang dikenakan Bapak saat itu dirobek setelah mendengar vonis dari dokter bahwa Bapak sudah tidak ada. Isak tangis, menyelimuti kepergian Bapak. Kakakku yang pertama memejamkan mata Bapak sambil membaca doa, sementara aku masih tidak percaya Bapak meninggal, tanpa pesan tersurat dan tanpa nasehat tersirat. Setelah pakaian bapak dirobek, kemudian Bapak ditutup kain, diangkat menuju ruang tamu untuk disemayamkan.
Sepanjang malam air mataku tak habis, terus tercucur karena kehilangan sosok yang selama ini aku andalkan. Sayangnya, aku tidak menyaksikan bapak dimandikan. Aku hanya menyaksikan ketika Bapak dikafani. Aku melihat detik demi detik proses itu, sampai akhirnya Bapak dikafani secara menyeluruh dan disholatkan. 26 Februari 2000, Bapak dimakamkan. Penyesalan yang sampai saat ini masih terasa adalah ketidakmampuanku mengantar kepergian Bapak ke liang lahadnya.
Kini sudah 11 tahun sepeninggal Bapak. Aku sudah memasuki dewasa awal sekarang. Pertumbuhanku tanpa ditemani seorang ayah, tapi perkembanganku sarat pengalaman bersamanya. Self-education based on what my father experienced is the key to me to bring my life brighter. Even though many obstacles come and come, I will never give up at all. Self-motivation meant intrinsic motivation must be fast planted and gradually revitalized in order to make our way straight and focus on goal.
© Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009
Back to TOP